Pandemium

Aku tidak mengingatnya secara pasti sudah berapa lama aku berdiam diri di kosan darurat ini. Rasanya aneh saja, ketika biasanya dulu setiap hari aku menuntaskan aktifitasku di luar ruangan, tiba-tiba menjadi betah di kubikel kecil berukuran 2×3 meter seperti sekarang. Sebenarnya, aku tidak terlalu parno dan cenderung cuek dengan wabah yang terjadi sekarang, cuma menurutku, lebih baik berdiam diri di dalam ruangan, karena di luar sana efek sosialnya sedang kacau dan tidak bersahabat.

Lanjutkan membaca “Pandemium”

Bawana, Selira, Bangsa dan Manungsa

buku karya Romo Banar terbitan Abisheka Dipantara & Log Pustaka

Jika “Memayu Rahayuning Bawana” adalah salah satu filosofi terbesar dalam tingkah laku masyarakat Jogja, maka ada level-level yang lebih tinggi daripada hanya mempercantik keindahan dunia. Level lanjutan dari filsafat tersebut adalah Memayu Rahayuning Selira, Memayu Rahayuning Bangsa dan yang terakhir adalah Memayu Rahayuning Manungsa.

Lanjutkan membaca “Bawana, Selira, Bangsa dan Manungsa”

Titik

Minggu pagi yang tenang, aku dan Bopeng lagi asyik-masyuknya bermain catur. Ada pisang goreng, menyok rebus dan kopi tubruk tentu saja. Bopeng merasa di atas angin, karena sterku sudah musnah, dan yang tersisa di depanku hanya raja, banteng dan satu kuda. Aku apes hari ini.

Tiba-tiba Karmin datang, dia menggenggam sebuah gulungan koran yang masih baru. Ternyata koran Kompos.

“Cerpenku tembus kolom sastra hari ini!” kata Karmin.

“Wah, keren dab!” Bopeng menyahutinya tanpa menoleh pada Karmin. Ia fokus bagaimana cara mematikan rajaku secepat mungkin.

“Apalagi koran Kompos, yang kutau honornya sejuta lebih Min.” kataku

“Ah masa? wah enak ya. Nulis segini doang dapet honor segede itu. ” sahut Karmin

“Coba pinjam sek sini, tak bacane! opo judul e?” Bopeng menyaut koran yang sudah agak lusuh itu.

“Titik.” jawab Karmin

Bopeng membaca sekilas tulisan itu. Aneh, biasanya Bopeng tidak terlalu suka membaca koran.

“Lhadalah, mana namamu? wong pengarangnya jelas-jelas dalang kenthir kae kok! woo ndobosan!” Bopeng melempar koran itu ke wajah Karmin.

“Waah ndak jeli sampean iki, Peng! coba lihat baik-baik. Karyaku itu yang ini, titik.”

Karmin menunjuk paragraf terakhir di sudut kolom. Aku dan Bopeng mengikuti jari telunjuknya dengan kuku yang agak kekuningan itu.

“Lho, piye to. Mana? wong itu cuma tanda titik kok. Jarene cerpen?” kataku

“Lho ya iya to. Aku kemarin Jumat ngirim tulisan ke Kompos. Nah di tulisanku itu ada tanda titiknya, banyak. Nah ini kontribusiku ke karya mbah dalang kenthir kae! sek aku ngecek rekening sek, wis ditransfer belum ya?!”

“Woalah Min Karmin, kowe ki mesti nggak tidur semalem ya?”

Bopeng melempar bidak caturnya ke kepala Karmin. Lumayan sepertinya, Ia langsung mengeluh kesakitan setelah dilempar bidak kuda itu.

Dan akhirnya perkelahian kecil antara Karmin dan Bopeng tidak bisa dihindari. Bidak catur yang tersisa di atas papan berserakan ke mana-mana karena ulah mereka berdua. Kabar baiknya, aku tidak jadi kalah.