Ya Leil, Bulan Sepotong.

/1/

Perlukah sepotong senja yang pernah dicuri oleh Sukab teruntuk Alina, pacarnya, juga aku kirimkan kepadamu ?

Read More

Iklan

Waktunya Tidak Tepat.

hug_yourself

Imajinasi kita saling berselisih, seperti realita dan ekspektasi, semacam dua hal yang sebenarnya bisa saling mewujudkan, namun akhirnya hanya satu yang mendapat tempat. Read More

Kompromisitas.

clive-austin-full-moon

Jadi gini, aku punya jurus seni menahan diri, yang sering juga aku sebut sebagai jurus ‘menahan rindu yang tak kenal waktu’. Cara melatihnya cukup dengan sabar, bersabar dengan sebuah jarak yang selalu membuat hati serasa terbakar. Read More

November.

Musim dingin belum sepenuhnya datang, tapi hidungku sudah mulai terasa kedinginan – penyakit langganan, ingusku mulai memerah pertanda mulai bercampur dengan darah. Saat ini aku berada dalam sebuah bulan yang bisa dikatakan susah, meskipun konflik silih berganti yang sebelum ini datang mulai sedikit mereda. Aku agak lega, meskipun semenjana. Yang kutau, aku butuh sedikit masa reses dari berbagai dunia persilatan tugas, dan sebuah perjalanan pekerja lepas.

Aku ini sepertinya sangat suka bercerita tentang sebuah konflik yang menimpa diriku. Bagaimana tidak, konflik-konflik ini bisa dikatakan bukan sebuah konflik skala kecil. Ya meskipun tidak begitu besar, untuk aku yang baru berusia kepala dua, sepertinya untuk berhutang sepuluh juta bukan hal yang bisa diselesaikan dengan hanya tertawa.

Oh iya, buku antologi yang aku ceritakan kemarin sudah lahiran sejak beberapa minggu lalu. Responnya baik, aku sedikit senang. Jika ada yang membaca tulisan ini, kalau kalian mau sangat boleh untuk membacanya, buku itu bisa didapat di @jazirahkucing atau juga bisa langsung ke @akasabookstore.

Lahiran buku ini tentu saja sebuah momentum – musibah juga bisa barangkali, akhirnya aku mau tidak mau benar-benar masuk ke sebuah dunia yang bisa dianggap dunia yang hakiki beserta dengan berjuta-juta problematikanya. Masalah hutang, pajak, beserta dengan tetek bengek urusan duniawi lainnya akhirnya berhasil juga datang menghadang memberikan tantangan yang aral melintang.

“Masalah cuan memang bikin ide kreatif kita lesu.” – kata guruku.

Memang, aku tidak mau timku juga ikut turut lesu gara-gara satu kesalahan jalan yang aku ambil seenaknya sendiri untuk jatuh dalam dunia perhutangan. Ya mau nggak mau aku harus buka jalan ke sana dan kemari untuk mengambil celah yang berisi emas. Meskipun dengan strategi gali lobang untuk tutup lobang lagi, setidaknya nafas yang keluar dari diafragmaku bisa sedikit mempunyai nyawa yang sedikit lebih lama – meskipun hanya dalam jangka beberapa bulan saja.

Tapi aku bahagia. Dan memang begitu, harus tetap bahagia. Bukankah bahagia merupakan obat penawar sebuah lara ?

Setidaknya, kepuasanku mulai sedikit terobati ketika buku ini sudah lahir. Tak perlu ambil jangka waktu lebih lama lagi, karena keuntunganku di proyek ini bisa dikatakan nol, atau bahkan masih minus,oleh karena itu edisi kedua memang harus tetap lanjut. Apapun caranya, dari manapun modal produksinya. Yang menjadi patokan, aku pernah berhutang seribu tiga ratus dollar amerika lebih untuk sebuah proyek yang berkeuntungan kepuasan batin saja, dan itu terbayar lunas. Apalagi dengan nominal yang sebenarnya lebih kecil ini ?

Jalan akan selalu ada. Meskipun permasalahan yang aku alami sebenarnya bukan itu-itu saja, masih banyak problematika yang aku simpan dan aku belum siap untuk menuliskannya karena terlalu sensitif dan membahayakan posisiku dalam sebuah kehidupan sosial yang nyata.

Aku masih begitu senang untuk bertengkar dengan idealismeku sendiri. Jalan keluar yang masih aku perdebatkan bagaimana untuk menjadikan intuisi dan sensualitas berpikir bisa semakin lebih tajam dalam memecahkan suatu masalah. Aku suka tantangan – kalau sedang rajin, mau nggak mau resiko yang aku ambil memang selalu besar. Entah dengan hal duniawi semacam cuan dan lain-lain, setidaknya aku sudah menemukan bahwa aku ini ternyata juga didengar, dan bukan aku beberapa tahun lalu yang sudah teriak-teriak menggunakan TOA namun hanya disambut dengan riuh tepuk tangan saja. Aku ini butuh perlawanan, yang seimbang.

Sepertinya aku harus duduk berjam-jam lagi di kafe nenek moyang. Sendirian.